komentar.gif

 KainPinawetengan.jpg


Lenyap sejak 200 tahun lalu. Hal itu membuat masyarakat Minahasa meminjam kain tenun daerah tetangga atau batik dari Jawa. Kini, kain tenun itu sudah hadir kembali.


Kehadiran tenun Minahasa lagi tentu membahagiakan masyarakat di daerah di Sulawesi Utara itu. Bahkan, saat ini tenun Minahasa sudah banyak dikenakan oleh selebritas. Lihat saja, misalnya, aktris Sheeren Sungkar ketika menerima penghargaan Panasonic Award sebagai Aktris Terpopuler 2010, terlihat anggun mengenakan gaun dari tenun Minahasa berwarna hijau rancangan Thomas Sigar. Thomas Sigar, perancang busana berdarah Manado, adalah orang yang menemukan kembali motif-motif lama tenun Minahasa. Sejak 2005, bersama Benny J. Mamoto dan Rita Mamoto dari Institut Seni Budaya Sulawesi Utara.


Pada abad ke-17 hingga ke-18, sebelum agama masuk ke Minahasa, tingkat keahlian menenun mencapai puncak tertinggi.  Kesulitan penenunan yang tinggi ditambah masuknya agama nasrani pada abad ke-19—yang menganggap motif-motif kain Minahasa kuno menyimbolkan keberhalaan—menjadi penyebab lenyapnya kain tenun Minahasa sejak 200 tahun yang lalu.


Sekarang, di belahan bumi ini hanya ada tujuh lembar kain Minahasa yang usianya sudah lebih ratusan tahun.  Itu pun tersimpan di museum di Belanda.  Satu lembar ada di Museum Nasional.

Jadi, ternyata sudah lama sekali masyarakat Minahasa mengenakan kain yang bukan miliknya. Melainkan dalam mengikuti upacara-upacara tradisi pun, masyarakat Minahasa biasa mengenakan kain tenun Nusa Tenggara Timur (NTT) bahkan kain batik pesisiran Jawa.  Sehingga saat ini, kain Pinawetengan hadir, yang merupakan kebangkitan kain tempo dulu, pada waktu 2 abad yang lalu.(disadur dari warisanindonesiadotcom)



Kain Motif Pinawetengan


Ide pembuatan kain Pinabetengan muncul sebagai bagian dari rencana membangun Desa Pinabetengan di kabupaten Minahasa sebagai desa seni Budaya. Untuk pembelian silahkan ke Kantor Yayasan Institut Seni Budaya Sulawesi Utara di Tompaso - Pinabetengan - Minahasa)



253816_122614067821245_6031414_n.jpg 


Batu Pinawetengan menurut Cerita Rakyat.

Ceritera rakyat mengenai adanya batu Pinawetengan di temukan penulis J.G.F Riedel dari cerita rakyat tombulu yang di cetak dalam bentuk buku berjudul "AASAREN TUAH PUHUHNA NE MAHASA" terbit di tahun 1870 dalam bahasa Tombulu. Lokasi tempat batu Pinawetengan pada mulanya hanya disebut tempat berkumpulnya penduduk Minahasa yang terletak di tengah-tengah Tanah Minahasa. Kemudian disebut tempat Pahawetengan Posan, pembahagian tatacara beribadat agama suku. Lokasinya disebuah tempat yang bernama bukit AWOHAN (AWOAN) di Tompaso. Istilah Watu Pinawetengan pada waktu itu belum ada, karena batu suci tempat upacara PAHAWETENGAN POSAN belum ditemukan karena sudah tertimbun dan masuk ke dalam tanah. Kemudian di tahun 1888 pada bulan Juni J.Alb.T. Schwarz seorang pendeta di Sonder membiayai penggalian batu Suci orang Minahasa tersebut, dan bulan Juli 1888 batu itu di temukan lalu lahirlah istilah "Watu Pinawetengan". Usia gambar-gambar di batu Pinawetengan di analisa penulis J.G.F Riedel berasal dari abad ke-7 (tujuh).



Analisa Arti Gambar Oleh J.Alb.T Schwarz.

Orang pertama yang menganalisa garis gambar di permukaan batu Pinawetengan adalah Pendeta J.Alb.T Schwarz, berdasarkan komentar Hukum Tua Kanonang Joel Lumentah. Keterangan Hukum Tua Kanonang dan seorang guru dari Sonder hanya mengenai bentuk segi-tiga adalah bentuk atap rumah pemimpin utama Minahasa yang memimpin upacara adat di batu Pinawetengan. Keterangan penting lainnya adalah gambar-gambar yang ada di tahun 1888 dan sekarang ini sudah hilang. Seperti gambar kelelawar, ikan hiu, buaya, jaring penangkap ikan. Hanya sampai disini uraian penulis J.Alb. Schwarz dalam bukunya "ETHNOGRAPHICA VIT DE MINAHASSA". Arti gambar manusia tidak dapat di analisa oleh Penulis J.Alb.T Schwarz.



Analisa Arti Gambar Oleh Jessy Wenas

Penulis melanjutkan penelitian arti gambar batu Pinawetengan dengan melengkapi data cerita rakyat Tontemboan buku tulisan J.Alb.T.Schwarz "Tontembeansche Taksten" terbitan tahun 1907. bahwa pemimpin upacara adat di pinawetengan Maha dewa Muntu-Untu tidak hanya satu orang tapi ada beberapa orang dalam kurun waktu 800 Tahun. Kemudian membandingkan gambar manusia di Pinawetengan yang punya kesamaan dengan gambar manusia di gua Angano Filipina yang berusia 3000 tahun yang lalu, memberi data bahwa pembuatan gambar di batu Pinawetengan bukan hanya mulai dari abad ke-7 tetapi sudah di mulai sejak jaman sebelum Masehi. Untuk lebih mendalami penelitian simbol-simbol perbandingan gambar-gambar binatang dan benda lainnya dari sistim zodiak Minahasa dari buku " De alfoersche Dierenriem " tulisan pendeta berkebangsaan Belanda Jan Ten Hove cetakan Tahun 1887. Karena uraian simbol-simbol gambar zodiak buku JAN TEN HOVE tahun 1887 sangat jelas mengenai penggunaan simbolisasi itu. Maka bahan keterangan data itu digunakan penulis untuk menguraikan lebih jauh arti- arti gambar yang bukan gambar manusia di permukaan batu Pinawetengan.


Kain Pinabetengan saat ini dibuat dalam 15 jenis dan warna seperti : hitam, merah, coklat, hijau, ungu, biru dan kombinasi lainnya. Corak atau gambar dikain Pinabetengan adalah bunga matahri yang menjadi icon Desa Pinabetengan. Bunga matahari sangat besar manfaatnya. Bunganya sangat indah dengan koleksi berbagai warna, bijinya dapat dibuat kwaci, makanan, minyak bunga matahri, dan pakan kuda pacu. Corak kain Pinabetengan lainnya sedang dalam proses, seperti corak manguni, Kuba Watu Pinawetengan dan kombinasi lainnya.

Ide pembuatan kain Pinawetengan muncul sebagai bagian dari rencana membangun Desa Pinabetengan di kabupaten Minahasa sebagai desa seni Budaya. Kehadiran kain ini diharapkan dapat memperkaya koleksi seni kain di Sulawesi Utara dan sekaligus mengangkat perekonomian masyarakat. Corak Kain Pinabetengan diambil dari guratan gambar yang ada di watu pinawetengan yang ditemukan dan digali pada akhir Juni 1888 oleh penduduk desa Kanonang. Saat ditemukan, guratan gambar tersebut berusia sekitar 1200 tahun atau tepatnya pada abad ke-7. Kemudian pada tanggal 7 Juli 1888 penduduk Desa Kanonang melakukan Upacara adat pertama dibatu Pinawetengan secara resmi.


Produk Kain Pinawetengan bisa Anda dapatkan di Kantor Yayasan Institut Seni Budaya Desa Talikuran Kec. Tompaso Kabupaten Minahasa - Sulawesi Utara



CyberSulutNews
CyberSulut News Allrights Reserved @2012
Powered by CyberSulut News